Pengetahuan Islam
SEJARAH
MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
A. Masuknya Islam di Indonesia
Sejak zaman
prasejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang
sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute
pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di
dataran Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa
kuno merupakan wilayah yang menjadi titik bagi para pedagang dan menjadi daerah
lintasan penting antara Cina dan India[1].
Pada abad
tersebut Indonesia menjadi pusat perdagangan pala dan cengkeh yang dimana
rempah-rempah pada masa itu sangat dibutuhkan oleh banyak orang luar Indonesia,
sehingga banyak pedagang-pedagang Muslim asal Arab, Persia, dan India yang juga
datang ke kepulauan Indonesia sejak abad ke-7M (abad I H)[2].
Ketika Islam pertama kali berkembang di Timur Tengah. Malaka sudah menjadi
pusat utama lalu-lintas perdagangan dan
pelayaran, melalui malaka hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok
Nusantara dibawa ke Cina dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan
dagang langsung dengan Malaka pada waktu itu. Maka tak heran banyak ahli
sejarah yang mengungkapkan bahwa kedatangan Islam di Indonesia dibawa oleh para
pedagang Arab yang dibantu oleh para pedagang Persia dan India, dan menjadi
awal pintu masuk Islam ke Indonesia. Akan tetapi, baru sebagian kecil
masyarakat yang menganutnya, karena masih dibawah kekuasaaan kerajaan Hindu dan
Budha, dan penyebaran masuknya Islam ke Indonesia berlangsung dalam tenggang
waktu yang lama yaitu 7M-13M.
Selain itu, menurut
J.C. van leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa
sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat laut Sumatera, yaitu di Barus,
daerah penghasil barus terkenal. Dari berita Cina bisa diketahui bahwa di masa
dinasti Tang (abad ke 9-10) orang-orang Ta-Shih sudah ada di Kanton (Kanfu) di
Sumatera. Ta-Shih adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia, yang ketika
itu jelas sudah menjadi Muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang
bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian Barat dan Timur
mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah di bagian
barat dan kerajaan Cina zaman dinasti Tang di Asia bagian timur serta kerajaan
Sriwijaya di Asia Tenggara. Akan tetapi, menurut Taufik Abdullah, belum ada
bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para
pedagang Muslim. Adanya koloni itu, diduga pedagang Arab tersebut hanya berdiam
untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran[3].
Baru pada
zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk Islam, bermula dari
penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang Muslim itu. Ditambah pada masa abad
ke-12 M Kerajaan Sriwijaya mengalami kemerosotan dan menjadi awal langkah yang
mudah bagi Islam untuk bisa menyebarkan ajarannya yang lebih luas di kalangan
pribumi, sehingga menjelang abad ke-13 M, beberapa kerajaan corak Islam mulai
didirikan seperti Samudera Pasai di Sumatera dan Kesultanan Malaka yang awalnya
menjadi pusat perdagangan penting dan penyebaran Islam akhirnya menjadi
kerajaan yang baru. Sedangkan di daerah Jawa sudah ada makam Fatimah binti
Maimun di Leran (Gresik) yang berangka pada tahun 475 H (1082 M), dan
makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti
berkembangnya komunitas Islam, termasuk di pusat kekuasaan Hindu-Jawa ketika itu. Namun, sumber sejarah
yang sahih yang memberikan kesaksian sejarah tentang berkembangnya masyarakat
Islam di Indonesia, baik berupa prasasti dan historiografi tradisional maupun
berita asing, baru terdapat ketika “Komunitas Islam” berubah menjadi pusat
kekuasaan[4].
Pada awal abad
ke-15, Kerajaan Majapahit yang terkenal besar adidayanya akhirnya mengalami
kemerosotan, dan bahkan mengalami keruntuhan serta banyak daerah yang ingin
melepaskan diri daerah Majapahit. Kemunduran dan runtuhnya Kerajaan Majapahit
ini menjadi peluang yang besar bagi masyarakat pribumi untuk mendakwahkan Islam
di Nusantara, sehingga pada tahun 1500 Demak berdiri sebagai kerajaan Islam
pertama di Jawa, berkembangnya Kerajaan Demak ini membuat banyak daerah yang
membangun otonominya menjadi kerajaan Islam seperti Kesultanan Banten dan
Kesultanan Cirebon. Di luar Jawa pun banyak berkembang kerajaan-kerajaan
bercorak Islam, seperti Kesultanan Ternate, Kesultanan Gowa, Kesultanan Banjar,
dsb. Dari dimulainya kerajaan-kerajaan Islam tersebut ajaran Islam dengan
mudahnya berkembang pesat di pelosok bumi persada nusantara[5].
Sampai
berdirinya kerajaan-kerajaan Islam itu, perkembangan agama Islam di Indonesia
dapat dibagi menjadi tiga fase[6] :
1.
Singgahnya
pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah
berita luar megeri, terutama Cina
2.
Adanya
Komunitas-Komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya, di
samping berita-berita asing, juga makam-makam Islam.
3.
Berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam.
Sementara itu,
Hasan mu’arif Ambary, berdasarkan data
arkeologisnya membagi fase Islamisasi kedalam tiga fase[7] :
1). Fase kehadiran para pedagang Muslim.
2). Fase terbentuknya kerajaan Islam
3). Fase pelembagaan Islam
B. Kondisi dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan di
Indonesia
Apabila kita
menelisik lebih dalam tentang bagaimana masuknya Islam pada abad masa kerajaan
Hindu Budha tentunya semua tenggelam dalam hegemoni maritim Sriwijaya yang
berpusat di Palembang dan kerajaan Hindu-Jawa seperti Singasari dan Majapahit
di Jawa Timur. Pada periode ini para pedagang dan mubalig muslim membentuk
komunitas Islam. Mereka mengajarkan toleransi dan persamaan derajat di antara
sesama, yang berbalik pada ajaran Hindu-Jawa yang mengenal sistem kasta dalam
ajarannya. Karena itu Islam terhitung cepat dalam perkembangannya.
Masuknya Islam
ke daerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan. Di samping itu
keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah ketika didatangi Islam juga
berlainan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M, Kerajaan Sriwijaya meluaskan
kekuasaannya ke daerah Semenanjung Malaka sampai Kedah. Selat Malaka merupakan
kunci bagi pelayaran dan perdagangan Internasional. Datangnya orang-orang
muslim ke daerah itu sama sekali belum memperlihatkan dampak-dampak politik,
karena tujuan mereka hanyalah melakukan perdagangan, keterlibatan orang-orang
muslim kedalam politik terlihat pada abad ke-9 M, terlihat saat mereka
terlibat dalam pemberontakan petani-petani Cina terhadap kekuasaan Tang
pada masa kaisar Hi-Tsung (878-8889 M)[8].
Kemajuan politik
dan ekonomi Kerajaan Sriwijaya berlangsung sampai abad ke-12 M. Pada akhir abad
12 M Kerajaan Sriwijaya memasuki masa kemunduran, terlebih kemunduran kerajaan
Sriwijaya dipercepat dengan adanya usaha-usaha Kerajaan Singasari yang sedang
bangkit di Jawa. Kerajaan Jawa ini
berhasil mengalahkan kerajaan Melayu di Sumatera. Keadaan itu mendorong
daerah-daerah di Selat Malaka yang dikuasai oleh Sriwijaya harus lepas dari
kekuasaannya[9].
Kelemahan
Sriwijaya juga dimanfaatkan oleh banyak pedagang muslim dalam hal mendapat
keuntungan politik dan perdagangan. Mereka mendukung daerah-daerah yang muncul
dan daerah yang menyatakan diri sebagai kerajaan bercorak Islam, yaitu kerajaan
Samudera Pasai di pesisir Timur Laut Aceh, dan dengan ini kerajaan Samudera
Pasai berkembang dengan baik dalam bidang politik maupun perdagangan[10].
Karena
kekacauan-kekacauan dalam negeri sendiri akibat perebutan kekuasaan di istana,
Kerajaan Singasari, juga pelanjutnya yaitu Kerajaan Majapahit, tidak mampu
mengontrol daerah Melayu dan Selat
Malaka dengan baik, sehingga Kerajaan Samudera Pasai dan Malaka dapat
berkembang dan mencapai pada puncaknya hingga abad ke-16 M[11].
Di Kerajaan
Majapahit, ketika Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada masih berkuas, situasi
politik pusat kerajaan memang tenang, sehingga banyak daerah di kepulauan
Nusantara mengakui berada dibawah perlindungannya. Tetapi sejak Gajah Mada
wafat (1364 M) dan disusul oleh Hayam Wuruk (1389 M), situasi Majapahit
mengalami kegoncangan, perebutan kekuasaan antara Wikramawhardana dengan Bhre
Wirabumi selama 10 tahun. Setelah Bhre Wirabumi wafat, perebutan kekuasaan di
Majapahit muncul lagi dan terus berlarut-larut. Pada tahun1468 M Majapahit
diserang Girindrawardhana dari Kediri. Sejak itu, kebesaran Majapahit sudah
habis. Tome Pires dalam tulisannya Suma Oriental , tidak lagi menyebut
nama Majapahit. Kelemahan-kelemahan yang semakin lama semakin memuncak akhirnya
menyebabkan keruntuhan[12].
C. Perkembangan Islamisasi di Berbagai Daerah Indonesia
Seperti
disebutkan pada uraian sebelumnya, saat memasuki abad ke-13 M, di pesisir Aceh
sudah ada pemukiman muslim, yaitu hasi dari persentuhan antara penduduk pribumi
dengan pedagang Arab, Persia, dan India yang memang pertama kali terjadi di
daerah itu. Maka dari itu, banyak yang memperkirakan proses islamisasi di
Indonesia sudah berlangsung sejak persetuhan tersebut. Dengan kesimpulan bahwa
dapat dipahami mengapa kerajaan Islam pertama kali terjadi di daratan Sumatera,
yaitu Samudera Pasai yang persisnya di Aceh pada pertengahan abad ke-13 M, setelah
Kerajaan Samudera Pasai berdiri, perkembangan warga muslim di daerah tersebut
semakin berkembang pesat dan pada awal abad
ke-15 M, di daerah tersebut lahirlah kerajaan Islam, yang dimana pada
saat itu menjadi kerajaan Islam terbesar kedua di Asia Tenggara, dan kerajaan
ini pun cepat sekali berkembangnya, hingga dapat mengambil alih dominasi
pelayaran dan perdagangan dari kerajaan
Samudera Pasai yang kalah bersaing[13].
Apabila kita
telusuri dalam pemberitaan yang dibawa oleh Tome Pires (1512-1515), mengungkapkan bahwa dapat diketahui di
daerah-daerah bagian pesisir Sumatera Utara dan Timur Selat Malaka, yaitu dari
Aceh sampai Palembang sudah banyak
terdapat masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam, namun pada saat itu
masih banyak juga daerah-daerah yang belum tersentuh Islam, seperti di
daerah-daerah pedalaman. Proses Islamisasi ke daerah-daerah Aceh, Sumatera
Barat, terutama terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad
ke-16 dan 17 M[14].
Sementara itu,
proses islamisasi di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-11 M, yang meskipun
belum begitu meluas, dengan terbuktinya adanya makam Fatimah binti Maimun di
Leran Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M). Dan perlu diketahui bahwa
pemberitaan Islam di Jawa pada abad ke-11 dan 12 M ini memang masih sangat
langka. Akan tetapi, sejakn akhir abad ke-13 M dan abad-abad berikutnya,
terutama pada saat Majapahit mencapai puncak kebesarannya, bukti-bukti adanya
islamisasi sudah banyak sekali, dengan bukti ditemukannya berapa puluh nisan
kubur di Troloyo, Trowulan, dan Gresik, bahkan di pusat Majapahit , telah
terjadi proses islamisasi dan sudah terbentuk masyarakat Muslim[15].
Tome Pires juga menyebutkan bahwa di Jawa sudah ada
kerajaan yang bercorak Islam yaitu Demak, dan kerajaan di pesisir Utara Jawa
Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat,
disamping pada saat itu ada kerajaan-kerajaan Hindu[16].
Perkembangan
Islam lebih cepat di Pulau Jawa saat bersamaan waktunya dengan melemahnya
posisi raja Majapahit. Hal demikiann itu memberi peluang yang besar kepada
raja-raja Islam pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang Independen,
di bawah spritual Sunan Kudus, meskipun bukan yang tertua dari Wali Songo,
Demak akhirnya berhasil menggantikan posisi Majapahit. Menurut Denys Lombard
secara garis besar membedakan Islamisasi di Jawa menjadi tiga tahap dalam
peresapan Islam di wilayah ini[17] :
1.
Berlangsungnya
Islamisasi wilayah pantai utara melalui pelabuhan perdagangan yang sejak abad
15 memainkan peranan yang amat penting
2.
Memberesnya
Islam di daerah pedalaman secara berangasur-angsur memunculkan borjuis Islam di
pedalaman.
3.
Terbentuknya
jaringan Islam pedesaan yang dimainkan oleh pesantren dan tarekat.
Hal yang sama
juga dilakukan oleh Lathiful Khuluq. Menurutnya, minimal ada lima fase penyebaran
Islam kepada masyarakat Jawa. Pertama, Islamisasi yang dilakukan oleh
pedagang muslim dari India dan Arabia kepada masyarakat komunitas masyarakat
biasanya di pesisir utara Pulau Jawa. Kedua, Islamisasi dilakukan oleh
para ulama yang terkenal dengan sebutan Walisongo. Ketiga, Islamisasi di
bawah Kerajaan Islam Mataram yang berpusat di pedalaman Pulau Jawa. Keempat,
Islamisasi yang diwarnai dengan makin maraknya gerakan pemurnian Islam yang dibawa
ke nusantara pada abad ke-18 M. Kelima, Islamisasi ditandai dengan
gerakan reformasi yang dilakukan oleh organisasi Islam, seperti Jami’at Al
Khair (1991), sarekat Islam (1911), Muhamadiyah (1912) dan sebagainya[18].
Pengaruh Islam
masuk ke Indonesia bagian timur pastilah tidak dapat dipisahkan dari jalur
perdagangan yang terbentang pada pusat lalu lintas pelayaran internasional di
Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14 M, Islam
datang ke daerah Maluku, Raja Ternate yang kedua belas, Molomatea (1350-1357 M)
bersahabat karib dengan orang Arab yang memberinya petunjuk dalam pembuatan
kapal. Hal ini menunjukan bahwa di Ternate sudah ada masyarakat Islam sebelum
rajanya masuk Islam. Demikian pula yang terdapat pada daerah Banda, Hitu,
Makyan, dan Bacan. Menurut Tome Pires, orang masuk Islam di Maluku kira-kira
tahun 1460-1465 M. Hal itu sejalan
dengan berita Antonio Galvao. Orang-orang
Islam datang ke Maluku tidak menghadapi kerajaan-kerajaan yang sedang
megalami kemunduran sebagaimana halnya yang di Jawa, akan tetapi mereka menyebarkan Islam melalui perdagangan,
dakwah, dan perkawinan[19].
Sedangkan pada
Kalimantan Timur pertama kali daerah tersebut diislamkan oleh Datuk Ri Bandang
dan Tunggang Parangan. Kedua mubalig itu datang ke Kutai setelah orang Makassar
masuk Islam. Proses Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya padsa tahun 1575[20].
Sulawesi,
terutama bagian selatan, sejak abad ke-15 M sudah didatangi oleh
pedagang-pedagang muslim, mungkin dari Malaka, Jawa, Sumatera. Pada awal abad
ke-16 M, di Sulawesi banyak sekali kerajaan yang masih beragama patung. Namun,
pada abad ke-16 di daerah Gowa, sebuah kerajaan terkenal di daerah itu, telah
terdapat masyarakat muslim. Di Gowa dan Tallo raja-rajanya masuk Islam secara
resmipada tanggal 22 September 1605 M[21].
Proses
Islamisasi pada tarif pertama di Kerajaan Gowa dilakukan secara damai, oleh
Datuk Bi Randang dan Datuk Sulaiman, keduanya memberikan ajaran-ajaran Islam
kepada Masyarakat dan raja. Setelah secara resmi memeluk agama Islam, Gowa
melancarkan perang kepada Soppeng, Wajo, dan Bone. Kerajaan-kerajaan tersebut
masuk Islam, Wajo pada tanggal 10 mei 1610 M, dan Bone, 23 November 1611 M[22].
Proses
Islamisasi memang tidak berhenti sampai berhentinya kerajaan-kerajaan Islam,
tetapi terus berlangsung secara intensif dengan berbagai cara dan saluran.
D. Saluran dan Cara-Cara Islamisasi di Indonesia
Kedatangan Islam
dalam proses penyebarannya bukan saja disebabkan satu pengaruh saluran
Islamisasi saja, akan tetapi juga banyak saluran Islamisasi yang lainnya yang
mempengaruhi perkembangan pesat agama Islam di Indonesia, seperti yang
dipaparkan oleh Uka Tjandrasasmita, bahwa menurut dia saluran-saluran
Islamisasi yang berkembang di Indonesia ada enam, yaitu[23] :
1)
Saluran
Perdagangan
Pada tarif
permulaan, saluran Islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas
perdagangan pada abad ke-7 hingga abad ke-16 M, membuat pedagang-pedagang
muslim (Arab, Persia, dan India) tutur ambil bagian dalam perdagangan dari
negeri-negeri bagian, barat, tenggara, timur Benua Asia. Saluran Islamisasi
melalui perdagangan ini sangatlah menguntungkan karena para raja dan bangsawan
turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan
saham.
Uka
Tjandrasasmita menyebutkan bahwa para pedagang muslim banyak yang bermukin di
pesisir Pulau Jawa yang dimana penududknya pada saat itu masih kafir. Mereka
berhasil mendirikan masjid dan mendatngkan mullah-mullah dari luar sehingga
jumlah mereka semakin banyak. Dan karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang
Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat, penguasa-penguasa Jawa, yang menjabat
sebagai bupati-bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Jawa banyak yang
masuk Islam, bukan hanya faktor politik
dalam negeri yang sedang goyah, akan tetapi terutama karena faktor
hubungan ekonomi dengan para pedagang muslim. Dakam perkembangan selanjutnya,
mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaandi tempat-tempat
tinggalnya.
2)
Saluran
Perkawinan
Dari susut
ekonomi, paar pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari
kebanyakan pribumi, terutama putri-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi
istri saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, mereka diislamkan terlebih dahulu.
Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka semakin luas. Akhirnya,
timbul kampung-kampung Muslim. Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita
muslim yang diwakini oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelah yang terakhir
ini masuk Islam terlebih dahulu, jalur perkawinan ini lebih menguntungkan
apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan
anak adipati, karena dengan saluran perkawinan ini mempercepat proses
Islamisasi.
3)
Saluran
Tasawuf
Pengajar-pengajar
tasawuf atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang
sudah dikenal luas oleh masyrakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis
dan mempunyai kekpuatan-kekuatan menyembuhkan,. Di antara mereka ada juga yang
mengawini putri-putri bangsawan. Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan
kepada para penduduk mempunyai kesamaan dengan alam pikiran mereka yang
sebelumnya menganut agam Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan
diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung
persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri
dari Aceh, Syaikh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti
ini masih berkeb=mbang di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M.
4)
Saluran
Pendidikan
Islamisasi juga
dilakukan oleh pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan
oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau di pondok
itu, calon ulama, guru agama, dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah
keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing kemudian
berdakwah ke tempat tertentu mengajarkan agama Islam. Misalnya pesantren yang
didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri.
Keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan
agama Islam.
5)
Saluran
Kesenian
Saluran
Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang.
Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan
wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta penonton
untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang
masih dipetik dari cerota Mahabharata dan Ramayana, tetapi dalam cerita
tersebut disisipkan ajaran dan nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga
dijadikan ala Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni
bangunan, dan seni ukir.
6)
Saluran
Politik
Di Maluku dan
Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam
terlebih dahulu. Pegaruh politik raja sangat membantu tesebarnya Islam di
daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia
bagian timur, dmei kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi
kerajaan-kerajaan non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak
menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.
[1] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 191
[2] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 191
[3] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 192
[4] https://kisahasalusul.blogspot.com/sejarah-masuknya-islam-ke-Indonesia-perkembangan-dan-penyebarannya/
diakses pada tanggal 14-12-2017
[5] https://kisahasalusul.blogspot.com/sejarah-masuknya-islam-ke-Indonesia-perkembangan-dan-penyebarannya/
diakses pada tanggal 14-12-2017
[6] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 193
[7] Hasan
Muarif Ambary, Menemukan Peradaban: jejak Arkeologis dan historis Islam
Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu) hlm 55-58
[8] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 194
[9] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 195
[10] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 195
[11] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 195
[12] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 195-196
[13] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 196
[14] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 197
[15] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 197
[16] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 198
[17] Lebba
Pongsibanne, Islam dan Budaya Lokal , (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara,
2017). Hlm 4
[18] Lebba
Pongsibanne, Islam dan Budaya Lokal , (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara,
2017). Hlm 4
[19] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 199- 200
[20] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 200
[21] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 200
[22] Badri
Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2016). Hlm 200
[23] Uka
Tjandrasasmita (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: PN Balai
Pustaka, 1984). Hlm 122
Komentar
Posting Komentar