Pengetahuan Islam

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
A.     Masuknya Islam di Indonesia
Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di dataran Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik bagi para pedagang dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India[1].
Pada abad tersebut Indonesia menjadi pusat perdagangan pala dan cengkeh yang dimana rempah-rempah pada masa itu sangat dibutuhkan oleh banyak orang luar Indonesia, sehingga banyak pedagang-pedagang Muslim asal Arab, Persia, dan India yang juga datang ke kepulauan Indonesia sejak abad ke-7M (abad I H)[2]. Ketika Islam pertama kali berkembang di Timur Tengah. Malaka sudah menjadi pusat  utama lalu-lintas perdagangan dan pelayaran, melalui malaka hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibawa ke Cina dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka pada waktu itu. Maka tak heran banyak ahli sejarah yang mengungkapkan bahwa kedatangan Islam di Indonesia dibawa oleh para pedagang Arab yang dibantu oleh para pedagang Persia dan India, dan menjadi awal pintu masuk Islam ke Indonesia. Akan tetapi, baru sebagian kecil masyarakat yang menganutnya, karena masih dibawah kekuasaaan kerajaan Hindu dan Budha, dan penyebaran masuknya Islam ke Indonesia berlangsung dalam tenggang waktu yang lama yaitu 7M-13M.
Selain itu, menurut J.C. van leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni Arab di barat laut Sumatera, yaitu di Barus, daerah penghasil barus terkenal. Dari berita Cina bisa diketahui bahwa di masa dinasti Tang (abad ke 9-10) orang-orang Ta-Shih sudah ada di Kanton (Kanfu) di Sumatera. Ta-Shih adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi Muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian Barat dan Timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah di bagian barat dan kerajaan Cina zaman dinasti Tang di Asia bagian timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara. Akan tetapi, menurut Taufik Abdullah, belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang Muslim. Adanya koloni itu, diduga pedagang Arab tersebut hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran[3].
Baru pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk Islam, bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni pedagang Muslim itu. Ditambah pada masa abad ke-12 M Kerajaan Sriwijaya mengalami kemerosotan dan menjadi awal langkah yang mudah bagi Islam untuk bisa menyebarkan ajarannya yang lebih luas di kalangan pribumi, sehingga menjelang abad ke-13 M, beberapa kerajaan corak Islam mulai didirikan seperti Samudera Pasai di Sumatera dan Kesultanan Malaka yang awalnya menjadi pusat perdagangan penting dan penyebaran Islam akhirnya menjadi kerajaan yang baru. Sedangkan di daerah Jawa sudah ada makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka pada tahun 475 H (1082 M), dan makam-makam Islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti berkembangnya komunitas Islam, termasuk di pusat kekuasaan  Hindu-Jawa ketika itu. Namun, sumber sejarah yang sahih yang memberikan kesaksian sejarah tentang berkembangnya masyarakat Islam di Indonesia, baik berupa prasasti dan historiografi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika “Komunitas Islam” berubah menjadi pusat kekuasaan[4].
Pada awal abad ke-15, Kerajaan Majapahit yang terkenal besar adidayanya akhirnya mengalami kemerosotan, dan bahkan mengalami keruntuhan serta banyak daerah yang ingin melepaskan diri daerah Majapahit. Kemunduran dan runtuhnya Kerajaan Majapahit ini menjadi peluang yang besar bagi masyarakat pribumi untuk mendakwahkan Islam di Nusantara, sehingga pada tahun 1500 Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, berkembangnya Kerajaan Demak ini membuat banyak daerah yang membangun otonominya menjadi kerajaan Islam seperti Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon. Di luar Jawa pun banyak berkembang kerajaan-kerajaan bercorak Islam, seperti Kesultanan Ternate, Kesultanan Gowa, Kesultanan Banjar, dsb. Dari dimulainya kerajaan-kerajaan Islam tersebut ajaran Islam dengan mudahnya berkembang pesat di pelosok bumi persada nusantara[5].
Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan Islam itu, perkembangan agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase[6] :
1.        Singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah berita luar megeri, terutama Cina
2.        Adanya Komunitas-Komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya, di samping berita-berita asing, juga makam-makam Islam.
3.        Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam.
Sementara itu, Hasan  mu’arif Ambary, berdasarkan data arkeologisnya membagi fase Islamisasi kedalam tiga fase[7] :
1).   Fase kehadiran para pedagang Muslim.
2).   Fase terbentuknya kerajaan Islam
3).   Fase pelembagaan Islam

B.     Kondisi dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan di Indonesia
Apabila kita menelisik lebih dalam tentang bagaimana masuknya Islam pada abad masa kerajaan Hindu Budha tentunya semua tenggelam dalam hegemoni maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan kerajaan Hindu-Jawa seperti Singasari dan Majapahit di Jawa Timur. Pada periode ini para pedagang dan mubalig muslim membentuk komunitas Islam. Mereka mengajarkan toleransi dan persamaan derajat di antara sesama, yang berbalik pada ajaran Hindu-Jawa yang mengenal sistem kasta dalam ajarannya. Karena itu Islam terhitung cepat dalam perkembangannya.
Masuknya Islam ke daerah-daerah di Indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan. Di samping itu keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah ketika didatangi Islam juga berlainan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M, Kerajaan Sriwijaya meluaskan kekuasaannya ke daerah Semenanjung Malaka sampai Kedah. Selat Malaka merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan Internasional. Datangnya orang-orang muslim ke daerah itu sama sekali belum memperlihatkan dampak-dampak politik, karena tujuan mereka hanyalah melakukan perdagangan, keterlibatan orang-orang muslim kedalam politik terlihat pada abad ke-9 M, terlihat saat  mereka  terlibat dalam pemberontakan petani-petani Cina terhadap kekuasaan Tang pada masa kaisar Hi-Tsung (878-8889 M)[8].
Kemajuan politik dan ekonomi Kerajaan Sriwijaya berlangsung sampai abad ke-12 M. Pada akhir abad 12 M Kerajaan Sriwijaya memasuki masa kemunduran, terlebih kemunduran kerajaan Sriwijaya dipercepat dengan adanya usaha-usaha Kerajaan Singasari yang sedang bangkit di Jawa. Kerajaan Jawa ini  berhasil mengalahkan kerajaan Melayu di Sumatera. Keadaan itu mendorong daerah-daerah di Selat Malaka yang dikuasai oleh Sriwijaya harus lepas dari kekuasaannya[9].
Kelemahan Sriwijaya juga dimanfaatkan oleh banyak pedagang muslim dalam hal mendapat keuntungan politik dan perdagangan. Mereka mendukung daerah-daerah yang muncul dan daerah yang menyatakan diri sebagai kerajaan bercorak Islam, yaitu kerajaan Samudera Pasai di pesisir Timur Laut Aceh, dan dengan ini kerajaan Samudera Pasai berkembang dengan baik dalam bidang politik maupun perdagangan[10].
Karena kekacauan-kekacauan dalam negeri sendiri akibat perebutan kekuasaan di istana, Kerajaan Singasari, juga pelanjutnya yaitu Kerajaan Majapahit, tidak mampu mengontrol  daerah Melayu dan Selat Malaka dengan baik, sehingga Kerajaan Samudera Pasai dan Malaka dapat berkembang dan mencapai pada puncaknya hingga abad ke-16 M[11].
Di Kerajaan Majapahit, ketika Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada masih berkuas, situasi politik pusat kerajaan memang tenang, sehingga banyak daerah di kepulauan Nusantara mengakui berada dibawah perlindungannya. Tetapi sejak Gajah Mada wafat (1364 M) dan disusul oleh Hayam Wuruk (1389 M), situasi Majapahit mengalami kegoncangan, perebutan kekuasaan antara Wikramawhardana dengan Bhre Wirabumi selama 10 tahun. Setelah Bhre Wirabumi wafat, perebutan kekuasaan di Majapahit muncul lagi dan terus berlarut-larut. Pada tahun1468 M Majapahit diserang Girindrawardhana dari Kediri. Sejak itu, kebesaran Majapahit sudah habis. Tome Pires dalam tulisannya Suma Oriental , tidak lagi menyebut nama Majapahit. Kelemahan-kelemahan yang semakin lama semakin memuncak akhirnya menyebabkan keruntuhan[12].
C.     Perkembangan Islamisasi di Berbagai Daerah Indonesia
Seperti disebutkan pada uraian sebelumnya, saat memasuki abad ke-13 M, di pesisir Aceh sudah ada pemukiman muslim, yaitu hasi dari persentuhan antara penduduk pribumi dengan pedagang Arab, Persia, dan India yang memang pertama kali terjadi di daerah itu. Maka dari itu, banyak yang memperkirakan proses islamisasi di Indonesia sudah berlangsung sejak persetuhan tersebut. Dengan kesimpulan bahwa dapat dipahami mengapa kerajaan Islam pertama kali terjadi di daratan Sumatera, yaitu Samudera Pasai yang persisnya di Aceh pada pertengahan abad ke-13 M, setelah Kerajaan Samudera Pasai berdiri, perkembangan warga muslim di daerah tersebut semakin berkembang pesat dan pada awal abad  ke-15 M, di daerah tersebut lahirlah kerajaan Islam, yang dimana pada saat itu menjadi kerajaan Islam terbesar kedua di Asia Tenggara, dan kerajaan ini pun cepat sekali berkembangnya, hingga dapat mengambil alih dominasi pelayaran dan perdagangan  dari kerajaan Samudera Pasai yang kalah bersaing[13].
Apabila kita telusuri dalam pemberitaan yang dibawa oleh Tome Pires (1512-1515),  mengungkapkan bahwa dapat diketahui di daerah-daerah bagian pesisir Sumatera Utara dan Timur Selat Malaka, yaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak  terdapat masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam, namun pada saat itu masih banyak juga daerah-daerah yang belum tersentuh Islam, seperti di daerah-daerah pedalaman. Proses Islamisasi ke daerah-daerah Aceh, Sumatera Barat, terutama terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad ke-16 dan 17 M[14].
Sementara itu, proses islamisasi di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-11 M, yang meskipun belum begitu meluas, dengan terbuktinya adanya makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M). Dan perlu diketahui bahwa pemberitaan Islam di Jawa pada abad ke-11 dan 12 M ini memang masih sangat langka. Akan tetapi, sejakn akhir abad ke-13 M dan abad-abad berikutnya, terutama pada saat Majapahit mencapai puncak kebesarannya, bukti-bukti adanya islamisasi sudah banyak sekali, dengan bukti ditemukannya berapa puluh nisan kubur di Troloyo, Trowulan, dan Gresik, bahkan di pusat Majapahit , telah terjadi proses islamisasi dan sudah terbentuk masyarakat Muslim[15].
Tome Pires  juga menyebutkan bahwa di Jawa sudah ada kerajaan yang bercorak Islam yaitu Demak, dan kerajaan di pesisir Utara Jawa Timur, Jawa  Tengah, dan Jawa Barat, disamping pada saat itu ada kerajaan-kerajaan Hindu[16].
Perkembangan Islam lebih cepat di Pulau Jawa saat bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi raja Majapahit. Hal demikiann itu memberi peluang yang besar kepada raja-raja Islam pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang Independen, di bawah spritual Sunan Kudus, meskipun bukan yang tertua dari Wali Songo, Demak akhirnya berhasil menggantikan posisi Majapahit. Menurut Denys Lombard secara garis besar membedakan Islamisasi di Jawa menjadi tiga tahap dalam peresapan Islam di wilayah ini[17] :
1.        Berlangsungnya Islamisasi wilayah pantai utara melalui pelabuhan perdagangan yang sejak abad 15 memainkan peranan yang amat penting
2.        Memberesnya Islam di daerah pedalaman secara berangasur-angsur memunculkan borjuis Islam di pedalaman.
3.        Terbentuknya jaringan Islam pedesaan yang dimainkan oleh pesantren dan tarekat.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Lathiful Khuluq. Menurutnya, minimal ada lima fase penyebaran Islam kepada masyarakat Jawa. Pertama, Islamisasi yang dilakukan oleh pedagang muslim dari India dan Arabia kepada masyarakat komunitas masyarakat biasanya di pesisir utara Pulau Jawa. Kedua, Islamisasi dilakukan oleh para ulama yang terkenal dengan sebutan Walisongo. Ketiga, Islamisasi di bawah Kerajaan Islam Mataram yang berpusat di pedalaman Pulau Jawa. Keempat, Islamisasi yang diwarnai dengan makin maraknya gerakan pemurnian Islam yang dibawa ke nusantara pada abad ke-18 M. Kelima, Islamisasi ditandai dengan gerakan reformasi yang dilakukan oleh organisasi Islam, seperti Jami’at Al Khair (1991), sarekat Islam (1911), Muhamadiyah (1912) dan sebagainya[18].
Pengaruh Islam masuk ke Indonesia bagian timur pastilah tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang pada pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14 M, Islam datang ke daerah Maluku, Raja Ternate yang kedua belas, Molomatea (1350-1357 M) bersahabat karib dengan orang Arab yang memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal. Hal ini menunjukan bahwa di Ternate sudah ada masyarakat Islam sebelum rajanya masuk Islam. Demikian pula yang terdapat pada daerah Banda, Hitu, Makyan, dan Bacan. Menurut Tome Pires, orang masuk Islam di Maluku kira-kira tahun 1460-1465 M.  Hal itu sejalan dengan berita Antonio Galvao. Orang-orang  Islam datang ke Maluku tidak menghadapi kerajaan-kerajaan yang sedang megalami kemunduran sebagaimana halnya yang di Jawa, akan tetapi mereka  menyebarkan Islam melalui perdagangan, dakwah, dan perkawinan[19].
Sedangkan pada Kalimantan Timur pertama kali daerah tersebut diislamkan oleh Datuk Ri Bandang dan Tunggang Parangan. Kedua mubalig itu datang ke Kutai setelah orang Makassar masuk Islam. Proses Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya padsa tahun 1575[20].
Sulawesi, terutama bagian selatan, sejak abad ke-15 M sudah didatangi oleh pedagang-pedagang muslim, mungkin dari Malaka, Jawa, Sumatera. Pada awal abad ke-16 M, di Sulawesi banyak sekali kerajaan yang masih beragama patung. Namun, pada abad ke-16 di daerah Gowa, sebuah kerajaan terkenal di daerah itu, telah terdapat masyarakat muslim. Di Gowa dan Tallo raja-rajanya masuk Islam secara resmipada tanggal 22 September 1605 M[21].
Proses Islamisasi pada tarif pertama di Kerajaan Gowa dilakukan secara damai, oleh Datuk Bi Randang dan Datuk Sulaiman, keduanya memberikan ajaran-ajaran Islam kepada Masyarakat dan raja. Setelah secara resmi memeluk agama Islam, Gowa melancarkan perang kepada Soppeng, Wajo, dan Bone. Kerajaan-kerajaan tersebut masuk Islam, Wajo pada tanggal 10 mei 1610 M, dan Bone, 23 November 1611 M[22].
Proses Islamisasi memang tidak berhenti sampai berhentinya kerajaan-kerajaan Islam, tetapi terus berlangsung secara intensif dengan berbagai cara dan saluran.
D.     Saluran dan Cara-Cara Islamisasi di Indonesia
Kedatangan Islam dalam proses penyebarannya bukan saja disebabkan satu pengaruh saluran Islamisasi saja, akan tetapi juga banyak saluran Islamisasi yang lainnya yang mempengaruhi perkembangan pesat agama Islam di Indonesia, seperti yang dipaparkan oleh Uka Tjandrasasmita, bahwa menurut dia saluran-saluran Islamisasi yang berkembang di Indonesia ada enam, yaitu[23] :


1)        Saluran Perdagangan
Pada tarif permulaan, saluran Islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga abad ke-16 M, membuat pedagang-pedagang muslim (Arab, Persia, dan India) tutur ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian, barat, tenggara, timur Benua Asia. Saluran Islamisasi melalui perdagangan ini sangatlah menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.
Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa para pedagang muslim banyak yang bermukin di pesisir Pulau Jawa yang dimana penududknya pada saat itu masih kafir. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatngkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka semakin banyak. Dan karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat, penguasa-penguasa Jawa, yang menjabat sebagai bupati-bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Jawa banyak yang masuk Islam, bukan hanya faktor politik  dalam negeri yang sedang goyah, akan tetapi terutama karena faktor hubungan ekonomi dengan para pedagang muslim. Dakam perkembangan selanjutnya, mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaandi tempat-tempat tinggalnya.
2)        Saluran Perkawinan
Dari susut ekonomi, paar pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari kebanyakan pribumi, terutama putri-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka semakin luas. Akhirnya, timbul kampung-kampung Muslim. Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita muslim yang diwakini oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelah yang terakhir ini masuk Islam terlebih dahulu, jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena dengan saluran perkawinan ini mempercepat proses Islamisasi.
3)        Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyrakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekpuatan-kekuatan menyembuhkan,. Di antara mereka ada juga yang mengawini putri-putri bangsawan. Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan kepada para penduduk mempunyai kesamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agam Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri dari Aceh, Syaikh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih berkeb=mbang di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M.
4)        Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan oleh pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau di pondok itu, calon ulama, guru agama, dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing kemudian berdakwah ke tempat tertentu mengajarkan agama Islam. Misalnya pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan agama Islam.
5)        Saluran Kesenian
Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerota Mahabharata dan Ramayana, tetapi dalam cerita tersebut disisipkan ajaran dan nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan ala Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni bangunan, dan seni ukir.
6)        Saluran Politik
Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pegaruh politik raja sangat membantu tesebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia bagian timur, dmei kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.



[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 191
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 191

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 192
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 193
[7] Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban: jejak Arkeologis dan historis Islam Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu) hlm 55-58
[8] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 194
[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 195
[10] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 195
[11] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 195
[12] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 195-196
[13] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 196
[14] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 197
[15] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 197

[16] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 198
[17] Lebba Pongsibanne, Islam dan Budaya Lokal , (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2017). Hlm 4
[18] Lebba Pongsibanne, Islam dan Budaya Lokal , (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2017). Hlm 4

[19] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 199- 200
[20] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 200
[21] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 200
[22] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016). Hlm 200
[23] Uka Tjandrasasmita (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984). Hlm 122

Komentar